upithemes - menjual tema dan plugin wordpress

Pemuda Tambelang Bekasi Mewujudkan Pemberdayaan Petani Urban

BEKASI – Kabupaten Bekasi memiliki luas wilayah 1.484,37 km2, dilansir situs resmi Pemda kabupaten Bekasi Sebagian besar wilayah Bekasi adalah dataran rendah dengan bagian selatan yang berbukit-bukit.

Ketinggian lokasi antara 0-115 meter dan kemiringan 0-250 meter, Kabupaten Bekasi terletak di sebelah Utara Provinsi Jawa Barat dengan mayoritas daerah merupakan dataran rendah, wilayah Kabupaten Bekasi berada pada ketinggian antara 0-25 meter di atas permukaan air laut. 

Berdasarkan karakteristik topografinya, sebagian besar Kabupaten Bekasi memungkinkan untuk dikembangkan untuk kegiatan budidaya,Terutama untuk budidaya ikan di tambak ataupun untuk budidaya hewan domestik seperti ayam dan kambing.

Dengan berbagai tantangan dan kebutuhan kedepan sekelompok pemuda di Tambelang kabupaten Bekasi akan mewujudkan pemberdayaan Petani dengan berbagai macam konsep berbasis keilmuan dan pengalaman dalam pengelolaan pertanian, Khaidir Musa atau yang kerap disapa Khaidir yang menjadi salah satu inisiator memberi keterangan pada pada Sabtu, 24 Juli 2021.

“Kami sangat bercita-cita pada kemandirian dan ketahanan pangan, untuk itu kami berupaya memulai dari sekitar yang bisa diberdayakan dan dikembangkan, kalau ditanya kenapa harus Pertanian tentu jawabannya tidak lepas dari banyaknya tanah yang masih belum tergarap dengan baik, sehingga dapat memberikan manfaat pada masyarakat luas”ucapnya Musa Pemuda Tambelang.

Lanjut Musa, “Kami berharap pada pihak-pihak yang tergerak dengan cita-cita kami dapat bersama-sama menghimpun kekuatan, terkhusus untuk Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi yang paling dekat wilayah kerjanya dengan kami dapat mengayomi dan memberikan dukungan. Untuk pertama kami memulai dengan progres Pembibitan tanaman yaitu beberapa jenis cabai, dan juga produksi pupuk organik atau pupuk kompos. Harapan kami kedepannya ini dapat jadi sentra Pembibitan tanaman se Indonesia dan jadi pusat pelatihan Petani.”tutup Musa saat menutup wawancara.

Dalam sejarah panjang Indonesia, pra Kemerdekaan maupun paska Kemerdekaan, Indonesia mempunyai catatan baik terkait pertanian, tanah Indonesia yang subur dengan dua musim yang bersahabat serta banyak nya aliran sungai yang dapat menjadi sumber pengairan menjadikan Indonesia dikenal sebagai Negara penghasil pertanian yang diakui dunia.

Sementara, ditempat yang sama Abdul Rahman yang juga terlibat dalam kegiatan ini mengatakan Badan-badan sungai sejatinya dapat digunakan sebagai area alternatif bagi petani urban untuk bercocok tanam tentu setelah mendapatkan izin bagi pihak-pihak terkait, agar tidak terjadi konflik atau masalah dikemudian hari. 

“Bagi kami, Petani adalah Penyangga Tatanan Negara oleh karena itu Regenarasi Petani dapat di dorong melalui Program Petani Millenial guna keberlanjutan Penyangga Tatanan Negara yang mulai ” lapuk ” sehingga tatanan Negara dapat kembali berdiri kokoh. 

Tentunya sebagai Regenerasi Penyangga Petani Millenial harus memiliki Visi menjadi Pengusaha Tani yg berbisnis di Desa dengan Penghasilan Kota dan tidak menutup kemungkinan bisnisnya mendunia, mengingat sarana tekhnologi media sosial/online yg ada saat ini, sangat mendukung akses pemasaran ditingkat Lokal, nasional dan bahkan Internasional”bebernya.

Masih menurut Bang Rahman Petani Millenial Harus juga di Bekali dengan Ilmu, teknik dan manajemen yg mumpuni, oleh karena itu orentasi Petani millenial tidak hanya fokus pada hasil atau keuntungan bisnisnya namun juga dibarengi dengan kemanfaatan ilmu dan pengalaman yg dimiliki untuk di tularkan pada generasi mendatang melalui kegiatan-kegiatan pelatihan dan praktek lapangan langsung agar teori-teori pertanian yang ada dapat di implentasikan secara nyata dilapangan.

“Kami berharap Petani Milenial dapat mengembalikan marwah Jawa barat sebagai lumbung pangan nasional serta terwujudnya swasembada pangan pada tingkat Desa, hingga tingkat Nasional. Yang paling penting dari kesemuanya adalah, Agar petani millenial tetap eksis, maka eksistensi lahan pertanian diwilayah Bekasi penting di jaga keberadaannya. Perimbangan antara kebutuhan hunian atau perumahan warga untuk tempat tinggal dan Kebutuhan lahan Pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok sehari-hari.”ungkapnya.

Adanya sungai-sungai yang melewati wilayah Kabupaten Bekasi merupakan potensi sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Di Kabupaten Bekasi terdapat enam belas aliran sungai besar dengan lebar berkisar antara 3 sampai 80 meter, yaitu sebagai berikut Sungai Citarum, Sungai Bekasi, Sungai Cikarang, Sungai Ciherang, Sungai Belencong, Sungai jambe, Sungai Sadang, Sungai Cikedokan, Sungai Ulu, Sungai Cilemahabang, Sungai Cibeet, Sungai Cipamingkis, Sungai Siluman, Sungai Serengseng, Sungai Sepak dan Sungai Jaeran.

Selain itu dari Ahli Pertanian, Raswan, atau yang mempunyai nama tenar Mr. Kucluk yang berpengalaman memberikan pemaparan, Lahan-lahan tidur di sekitar perumahan warga harus bisa dimanfaatkan secara optimal untuk bercocok tanam.

“Hal itu dapat terjadi jika ada pihak-pihak yang dapat mendorong warga atau sekedar memberikan contoh dengan keberhasilan, sekarang zamannya Pertanian Urban, dengan lahan sempit namun dapat mengolah dan menghasilkan produk pertanian unggulan dan bersaing dipasaran. Sedangkan untuk meminimalisir ongkos pertanian dapat memanfaatkan Pupuk Organik baik cair maupun padat dengan bersinergi dengan Peternak Kelinci, Peternak Kambing dan Petani Jamur.”jelasnya.

Raswan dan kawan-kawan Pemuda, akan terus memberikan motivasi kepada generasi muda untuk senang bercocok tanam karena teknik yang ditawarkan tidak konvensional tapi sebagai Petani Urban dengan mengembangkan teknik-teknik, seperti Verti Culture, agro Wisata. 

“Jangan salah pemahaman kami tidak akan membentuk generasi muda menjadi Petani biasa yang cenderung kolot dan tidak mengikuti perkembangan zaman tetapi kami akan membentuk generasi muda menjadi pengusaha Tani yang memungkinkan petani kedepan berdasi dengan manajemen yg profesional dan bersinergi dengan ahli pemasaran dan ahli tekhnologi.”pungkasnya Raswan.

Laporan : Sigap Sinuraya

Editor : Ardi Priana